
Cover Art
|
Disk 1 + 2
Film yang mengambil seting di tahun 1960an, mengisahkan hidup Armanda Prasetyo
Annebelle Yuwantoro yang merupakan keturunan Prasetyo Yuwantoro yang berdarah
Jawa dan Maria Armanda Volksalle yang berdarah Belanda dalam menjalani kehidupannya
yang sulit akibat pergolakan yang terjadi di Jogya.
Hari-hari sulit dalam hidup Anne dimulai ketika ayahnya tewas karena kecelakaan
yang mengakibatkan Anne tinggal hanya dengan ibu dan pembantu setianya saja.
Pernikahan kedua orang tuanya yang tidak disetujui karena perbedaan bangsa
membuat segalanya semakin sulit. Akankah Anne dapat menjalani kehidupannya ?
Anne Van Jogya menawarkan sebuah tontonan yang berbeda dengan latar belakang
budaya yang kental.
Armanda Prasetyo Annebelle Yuwantoro, seorang gadis keturunan Belanda yang mempunyai
ayah berdarah Jawa dan ibu yang berdarah Belanda. Adalah raden Prasetyo Yuwantoro yang
ketika sedang belajar di Belanda bertemu dengan Maria Armanda Volksalle. Walau demikian,
sekembalinya pasangan muda ini dari Belanda, keluarga Yuwantoro tidak menyetujui pernikahan
tersebut. Mereka terusir dari keluarga yang tetap tidak menyetujui pernikahan mereka dan
akhirnya mereka membangun keluarga dan usaha perkebunan keluarga di daerah Jogja.
Saat Anne masih kecil, berusia 7-11 tahun, ia bersekolah di sekolah Belanda.
Anne mempunyai teman baik yang bernama Satrio. Akibat sebuah kecelakaan,
Ayah Anne tewas dan mengakibatkan Anne terpaksa hidup berdua bersama ibunya
ditemani Mbok Nem yang merupakan pembantu setia ayahnya yang menutuskan untuk
ikut menemani ayahnya saat mereka terusir oleh keluarga.
Pada tahun 1960, ketika Anne berusia 10 tahun, keadaan di kota Jogja semakin
kisruh dengan antipati terhadap Belanda. Belanda mulai dibenci dan mengakibatkan
ditutupnya sekolah Belanda di mana Anne bersekolah. Bahkan keadaan makin parah
saat perkebunan milik keluarga Anna digugat oleh ayah Satrio karena dianggap
bukan milik orang Indonesia. Akhirnya mereka memang harus merelakan perkebunan
keluarga tersebut berpindah tangan, yang juga mengakibatkan Anne marah besar
kepada Satrio karena dianggap keluarganyalah yang menimbulkan semua kesusahan tersebut.
Setelah kejadian itu, Anne dan ibunya pindah ke kota Solo, di mana mereka mulai
berbagai usaha dengan bertopang pada uang tabungan suaminya. Karena stress yang
berlebihan, ibu mulai sakit sakitan dan akhirnya meninggal. Anne sangat terpukul
dengan kejadian itu. Namun Anne memberanikan diri untuk melanjutkan hidupnya,
dengan bantuan Mbok Nem yang menjual batik batik hasil karya mereka ke para tetangga.
Akhirnya mereka berhasil berkembang menjadi pengusaha batik yang cukup mapan di Solo.
Tetapi ternyata, di belakang kesuksesan mereka, Satrio diam-diam membantu dengan
membeli batik Anne dalam jumlah yang besar dan mencari pembeli pembeli lain
untuk memborong hasil batik Anne. Ternyata satrio hingga kini masih menyimpan
rasa cintanya kepada Anne sebagai seorang sahabat lama dari waktu kecilnya.
Namun Satrio akhirnya hanya bisa menyimpan perasaan tersebut bagi dirinya sendiri.
Satrio akhirnya dijodohkan dengan salah satu putri keraton Solo, karena
statusnya yang masih memiliki darah biru, ningrat dari keturunan keraton.
| |